Rekonstruksi Payudara

Payudara merupakan simbol penting kewanitaan. Maka, bila organ ini tidak ada, entah akibat operasi atau apa pun, wanita tak lagi merasa sebagai perempuan sejati. Tak jarang, mereka menjadi tidak percaya diri, hingga depresi.


Namun, dengan kemajuan teknologi, masalah ini dapat diatasi. Evolusi pembedahan kanker payudara membuka harapan baru bagi wanita yang ingin memperoleh kembali penampilan seperti sebelumnya.

“Sekarang ada rekonstruksi payudara. Ini berbeda dengan operasi implan payudara biasa. Tujuannya untuk mengembalikan rasa percaya diri dan penampilan pasien.” ujar dr Walta Gautama, SpB(K) Onkm divisi Bedah Tumor RS Kanker Dharmais, di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (8/9).

Ia menerangkan, rekonstruksi tersebut dapat dilakukan setelah operasi pengangkatan kanker atau menunggu hingga tiga tahun setelah itu. “Yang dimaksud menunggu adalah untuk memastikan kanker tersebut tidak kambuh lagi,” kata dia.

Tingkat kesulitan juga tergantung stadium yang diderita pasien. Semakin tinggi stadium, maka semakin sulit rekonstruksi yang dilakukan. Jenis rekonstruksi yang dipilih sangat tergantung pada jenis dan waktu operasi yang dilakukan sebelumnya. Rekonstruksi payudara dapat dilakukan menggunakan implan atau menggunakan jaringan tubuh pasien sendiri.

Jaringan tubuh pasien yang dipergunakan untuk operasi rekonstruksi adalah jaringan otot yang terdapat pada perut, paha, ataupun tubuh bagian belakang. Otot dan kulit pada bagian tersebut diangkat, lalu dipindahkan pada payudara yang telah dioperasi dan dibentuk payudara baru. Sementara luka pada bagian yang diambil otot ditutup. Selain itu, rekonstruksi juga dapat dilakukan menggunakan implan. Implan dimasukkan ke payudara yang telah dioperasi, kemudian dijahit.

Meski demikian, pasien harus menerima risiko yang terjadi setelah operasi rekonstruksi, terutama rekonstruksi menggunakan jaringan tubuh pasien. Pasien harus menerima luka yang disebabkan pengambilan otot. Jika pengambilan otot dilakukan pada bagian perut, maka pasien tidak dapat mengejan terlalu keras. “Makanya disarankan, jenis rekonstruksi ini (hanya untuk) pasien yang telah memiliki cukup anak,” ujarnya.

Selain itu, pasien harus siap menerima jika suatu saat diperlukan operasi ulang karena kanker yang pernah ada kembali timbul. “Kanker itu tidak bisa dicegah, masih ada kemungkinan timbul lagi. Pasien harus rela kalau suatu saat harus rekonstruksi ulang,” ucapnya.

Source: http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/09/08/15394335/payudara.diangkat.bikin.lagi.tho

Leave a Reply