Titik Terang Penyembuhan HIV / AIDS

Lebih dari 19.2 juta perempuan, pun terus bertambah, hidup dengan HIV / AIDS di seluruh dunia. Pada banyak negara, tingkat infeksi HIV pada perempuan meningkat jauh lebih tajam daripada kelompok lainnya. Dan sebagaimana diketahui, data ini hanya puncak dari gunung es.
Akan tetapi perkembangan teknologi penyembuhan kini menemui titik terang akan usaha mereka mencegah penyebaran virus mematikan ini.

Beberapa peneliti menyatakan bahwa obat yang digunakan untuk mengkontrol (Human Immunodeficiency Virus) HIV / AIDS kini dianggap mampu menjadi obat pencegah penyebaran penyakit tersebut. Ini merupakan perkembangan penelitian paling menjanjikan dalam kurun 20 tahun terakhir di dunia kedokteran.

Beberapa obat yang dimaksud ialah tenofovir (Viread) dan emtricitabine, atau FTC (Emtriva),  penelitian sebelumnya diarahkan untuk menemukan vaksin melawan HIV/AIDS, dengan maksud mengadaptasikan kondisi kekebalan tubuh terhadap penyakit ini. Akan tetapi obat-obatan ini bekerja dengan cara berbeda. Mereka menjaga virus agar tidak mampu reproduksi, sehingga virus tidak dapat menyebar di dalam tubuh. Hal ini telah digunakan oleh beberapa petugas klinik kesehatan guna mencegah mereka terjangkit dari virus yang dibawa pasien.

Pendekatan untuk melawan HIV / AIDS ini, telah dikerjakan bertahun-tahun, namun baru belakangan menjadi nyata ketika obat pencegah yang dikembangkan sangat aman dikonsumsi mereka yang belum tertular. Obat-obatan sebelumnya tidak memiliki efek nyata terhadap mereka yang belum terinfeksi.

Meskipun baru diujikan kepada monyet, namun menunjukan hasil yang menggembirakan. Penelitian terkini dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat penelitian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, AS.  Memberikan monyet-monyet uji coba dengan gabungan Tenofovir dan FTC untuk dicampur dengan virus AIDS monyet dan manusia.

Masing-masing telah diberi virus selama 14 minggu, dan tidak ada satupun yang menjadi terjangkit. Sementara dalam kelompok lainnya yang tidak diberi obat,  semua menjadi terjangkit virus, terkecuali satu yang tidak terinfeksi penyakit.

Para peneliti kemudian menghentikan pemberian obat, untuk menguji apakah pencegahan hanya bersifat sementara. Hasilnya cukup mengagumkan. Tidak ada monyet yang menderita penyakit. “kami kini telah mengikuti mereka selama empat bulan, tanpa obat, tanpa virus. Mereka tidak terinfeksi dan sehat,” tutur seorang peneliti CDC, seperti dilansir Health Guidance.

Leave a Reply