PARA ahli kesehatan dunia sepakat bahwa khitan atau bersunat, baik untuk tubuh. Namun, mereka tak menyarankan melakukannya pada anak lelaki di bawah lima tahun. Usia terbaik adalah saat anak menginjak dewasa.
Dikhitan atau disunat adalah momen paling membahagiakan sekaligus mendebarkan, terutama bagi anak-anak lelaki muslim menjelang usia akil baliq. Membahagiakan karena perayaannya yang meriah. Tapi, mendebarkan karena mitos kengerian yang menyertainya.
Puluhan tahun lalu, boleh jadi orangtua cemas karena prosedur sunat masih dikerjakan dukun sunat yang hanya mengandalkan pengalaman dan alat seadanya.
Alat potong saat itu masih berupa pisau silet, atau gunting. Sementara untuk menghindari infeksi, obat yang dipakai hanyalah ramuan rimpang, atau tumbuhan obat lainnya.
Sebagian malah mengharuskan anak merendam tubuh bagian bawahnya di sungai, danau, kolam, maupun bak mandi dini hari hingga tubuh menggigil. Tujuannya untuk mengurangi rasa sakit. Prosedur ini juga mengurangi darah yang keluar saat sunat dilakukan.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, tindakan memotong atau menghilangkan seluruh kulit penutup depan penis yang dikenal dengan istilah sirkumsisi dudah dilakukan para mantri kesehatan, perawat, dokter umum, hingga spesialis bedah. Mereka tak cuma berpengalaman, tapi juga dibekali wawasan luas tentang aspek medis.
Prosedur sunat bahkan masuk pada kategori operasi kecil. Menggunakan peralatan gunting, pisau manual atau pisau listrik, pembiusan lokal, jarum dan benang operasi. Ada pula yang memanfaatkan teknologi sinar laser sebagai alat pemotong.
Bagi umat Islam, khitan dilakukan untuk memenuhi sunah Rasulullah SAW supaya yang bersangkutan bisa lebih mudah membersihkan diri dari najis sebelum melaksanakan salat.
Belakangan para pakar kesehatan di negara-negara maju menganjurkan prosedur sunat dengan alasan kesehatan.
Namun kalangan medis menganjurkan agar sunat tidak dilakukan pada usia masih dalam pertumbuhan agar kulit penis dan penis berkembang lebih dulu. Usia yang tepat saat sunat antara 13-14 tahun. Sunat pada usia dini membuat kulit penis tertarik yang menyebabkan perkembangannya tidak optimal.
Dari sisi kesehatan, sunat terbukti dapat mencegah penumpukkan smegma, yaitu zat lengket berwama putih susu yang seringkali berbau tidak sedap. Smegma berasal dari lemak diproduksi tubuh lalu bercampur bakteri dan sisa-sisa urine.
Kotoran smegma pada penis tidak berbahaya bagi pria, namun smegma itu dapat menjadi gangguan pada rahim wanita yang melakukan hubungan intim dengan pria tersebut. Sebab smegma rentan menjadi tempat berkembang biak Human papillomavirus (HPV), penyebab terjadinya kutil kelamin yang membuat radang dan infeksi mulut rahim.
Dr Auvert dan rekan-rekannya dari Hopital Ambroise-Pare di Boulogne, Prancis, bahkan merekomendasi para pria terutama di kawasan-kawasan rentan penyebaran Human immunodeficiency virus (HIV), agar bersunat guna memperkecil risiko terinfeksi HIV.
Dalam penelitian klinisnya seperti dikutip eramuslim.com, Dr Bertran Auvert, mengungkap sunat mengurangi area tempat hidup HIV. “Tapi bukan berarti sunat merupakan perlindungan total terhadap HIV,” tegasnya. (ricky reynald yulman)
Dulu, Ritual Pengorbanan
Para peneliti menemukan sunat sebenarnya sudah dilakukan sebagian masyarakat Mesir Purba sejak zaman prasejarah. Berdasar data grafis terdapat dalam gambar di dinding gua Temple of Khonspekhrod, sunat diperkirakan sudah dilakukan sekitar tahun 1360 SM.
Belum terungkap alasan mengapa masyarakat melakukan tindakan sunat. Dari beberapa teori diperkirakan, sunat pada masa itu merupakan bagian ritual pengorbanan atau persembahan, tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa.
Sebagian teori memperkirakan sunat dilakukan sebagai penanda seorang anak yang memasuki usia dewasa. Ada juga menganggap sunat adalah tanda kekalahan atau perbudakan, atau upaya untuk mengubah estetika atau seksualitas.
Namun setelah turun ajaran Yahudi, Nasrani, dan Islam, sunat makin memasyarakat. Sebab dalam ajaran tersebut kaum pria dianjurkan melakukan sunat. (ricky reynald yulman)
Mencegah Kanker Ganas
PARA ahli memastikan, sunat dapat mencegah atau meminimalisasi infeksi penularan beberapa penyakit kelamin dan kekebalan tubuh.
Satu di antaranya adalah mencegah kanker ganas dan praganas pada alat kelamin. Para ahli yakin, khitan dapat mencegah terjadinya akumulasi sinegma yang mempunyai hubungan dengan terjadinya kanker ganas penis.
Penyakit lainnya yang dapat dihindari dengan khitan adalah penyakit phimosis. Phimosis ialah kondisi di mana preputium tidak dapat ditarik ke proximal melewati glend penis.
Preputium yang tidak dapat ditarik ke proximal ini dapat mengakibatkan peradangan dan fibrosis yang berulang dapat mengakibatkan lubang preputium yang makin menyempit sehingga dapat menyebabkan obstruksi air seni. Sekarang diketahui bahwa peradangan kronis pada preputium merupakan predis posisi.
Para ahli percaya, sunat juga dapat membuat seorang lelaki terhindar dari paraphimosis. Paraphimosis ialah keadaan di mana preputium yang dapat ditarik ke proximal melewati gland penis dengan sedikit tekanan tetapi sulit untuk dikembalikan ke depan seperti semula.
Gangguan kesehatan lain yang juga dapat dihindari adalah munculnya Condyloma Occuminuta (Veneral warta). Ini adalah suatu kelainan kulit berupa vegetasi oleh Human papiloma virus (HPV) type tertentu yang bertangkai dengan permukaan berjonjot. Khitan diperlukan untuk membuang kelainan kulit preputium tersebut.
Namun, apa pun itu, satu hal pasti, dengan bersunat kondisi alat vital pria akan lebih higienis karena di masa remaja dan dewasa mereka lebih mudah merawat dan membersihkan bagian tersebut