Food Combining (FC) merupakan pola makan sehat alami yang mendukung seluruh organ tubuh kita dapat bekerja dengan baik, sehingga kesehatan terjaga.
Dampaknya, penampilan tampak lebih muda dan segar, dengan emosi yang terjaga dan mudah merasa bahagia. Selain itu, penyakit yang mungkin ada dalam tubuh kita, terutama penyakit akibat gangguan metabolisme, dapat teratasi.
Sebut saja, kegemukan atau kekurusan, alergi (asma), gangguan lambung, gangguan asam urat, kencing manis, hipertensi, hiperkolesterol (trigliserida), stroke, penyakit jantung, tumor atau kanker, gangguan emosional (stres, depresi, hiperaktif atau keranjingan makanan).
Adalah Wied Harry Apriadji, host Harmony di Trans TV, yang menerapkan food combining sejak tahun 2000. Awalnya, pria berusia 50 tahun ini kurang menaruh minat terhadap FC. Namun, setelah mendalami sistem biokimiawi dan proses metabolisme tubuh, pakar gizi dan ahli masak sehat alami ini akhirnya berkesimpulan FC rasional dan ilmiah.
“Dulunya, saya musuh dengan FC karena pencetusnya adalah ibu Andang Gunawan, ND, nutrition therapist yang berasal dari dunia fesyen. Artinya karena kita yang paling ahli gizi, jadi merasa anti dengan program tersebut. Tapi kemudian saya disadarkan oleh istri,” kata Wied ketika ditemui okezone dalam talkshow “Salad & Jus untuk tampil cantik, sehat, dan awet muda” di Citywalk Sudirman, Jumat (11/4/2008).
Berkat ketekunan menerapkan pola makan FC, kadar trigliserida darahnya yang sangat tinggi (440 mg/dl) berangsur-angsur turun menjadi 160 mg/dl, dan tidak pernah lagi melonjak. Selain itu, keluhan sering pusing sebelah yang sangat kronis hingga membuatnya kerapkali membolos kerja, serta kecenderungannya mudah flu, gampang masuk angin, dan kebiasaan bersin-bersin setiap kali bangun pagi atau bila kedinginan, kini menghilang. Bahkan, sejak menjalankan pola makan FC ia tidak pernah menderita flu.
Bahkan, alumnus Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB Bogor dan mengenyam pendidikan manajemen pemasaran pada Program Magister Manajemen Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini tidak lagi mengonsumsi obat-obatan.
“Meski tidak minum obat-obatan lagi, tapi saya tetap minum rebusan temulawak. Setelah menerapkan FC, kondisi kesehatan saya stabil. Bahkan, meski saya sedikit bandel mengonsumsi makanan yang banyak, tetap bisa kembali normal lagi. Jadi ibaratnya, kalau kita menerapkan FC itu seperti sebuah sungai, lalu di dalamnya banyak sampah tapi tetap dapat mengalir,” beber pria yang selama 20 tahun bekerja di media-media ternama di Indonesia itu.
Walaupun pria ramah ini telah memeroleh khasiat dari FC, bukan berarti dalam penerapannya tidak menemukan kendala. “Awalnya berat sekali untuk menerapkan FC, karena kita biasa sarapan. Tetapi sarapan buah itu kenyangnya beda karena lebih alami dibandingkan dengan nasi. Setelah melakukan FC, meeting sampai siang pun bisa tetap segar,” paparnya.
Ditambahkan olehnya, prinsip FC itu adalah disesuaikan dengan siklus tubuh kita yang terdiri dari tiga macam. Yaitu pagi hari saat membuang, makanya BAB itu pagi hari. Untuk siang hari adalah siklus mencerna. Pada saat itulah kita makan yang berat. Pada jam 20.00-21.00 kita seharusnya tidak makan lagi, karena pada jam 6 pagi itu proses asimilasi tubuh (pemanfaatan nutrisi untuk membangun sel).
“Untuk itu, pada pagi hari di mana proses asimilasi belum siap, kita konsumsi makanan yang mudah dicerna. Tetapi karena kita juga butuh energi maka harus memberikan energi yang cukup. Karena itu saya sarankan untuk mengonsumsi buah atau minum jus buah. Meski demikian, kalau tidak kuat bisa menambah protein alami yang mudah cerna yang tidak diolah dengan banyak lemak,” imbuhnya.
Pola-pola makan sehat alami dari FC menambah teori Wied pada keseimbangan asam-basa tubuh. Misalnya pola makan vegetarian, makrobiotik, mediterania, okinawa, raw food diet. “Jadi tak perlu takut menerapkan FC karena dalam satu hari bisa saja kita hanya menyantap makanan nabati (vegetarian) atau makanan nabati mentah (raw food),” jelas Wied.
Masih menurutnya, dalam penerapan FC harus dilihat pada kebutuhan tubuh individu karena masing-masing butuh enzim dan asam basa yang berbeda.
“Pada siang hari menu FC dipilih yang hewani dan sayuran karena proses pencernaannya lama. Dari siang ke malam hari juga waktunya lebih lama. Sehingga menu hewani itu tercerna dengan baik,” ungkap pria yang rajin latihan yoga dan meditasi itu. Sementara pada malam harinya, menu FC lebih pada nabati supaya lebih mudah dicerna.
Meski banyak nilai positif yang diperoleh saat mengikuti FC, banyak orang beranggapan cara ini menyiksa karena tidak boleh sembarangan makan. Menanggapi hal itu, Wied menuturkan bahwa pendapat tersebut keliru.
“Sesekali kita tetap bisa mengonsumsi makanan enak karena FC bukan anti sosial. Jadi, kalau diet yang lain tidak bisa merasakan makanan yang enak dan lezat, FC bisa. Tapi biasanya kita memilih makanan yang diseimbangkan, setelah itu balik lagi dengan FC,” ujarnya.
Nah, siapkah menerapkan hidup sehat dengan food combining?