KELAINAN struktur tulang ternyata tak selalu bergejala. Kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika mulai timbul keluhan. Seperti apa?
Sebut saja Tania, 14. Remaja yang masih duduk di bangku SMP ini sejak kecil sudah hobi berkuda. Namun, siapa sangka bila peristiwa jatuhnya ia dari kuda empat tahun silam menjadi pertanda awal dirinya terdeteksi kelainan tulang belakang yang disebut scoliosis.
“Sehabis jatuh, saya merasakan sakit pada tulang ekor. Keluhan ini terus berlanjut. Karena kadang-kadang masih terasa sakit,” ujar gadis manis berkulit putih ini.
Tak tega melihat gadis kecilnya kesakitan, Agustin, sang bunda, memeriksakan kesehatan putrinya itu ke dokter ahli tulang.
“Waktu itu kami baru tahu kalau rasa sakitnya bukan disebabkan karena Tania jatuh dari kuda. Tapi oleh scoliosis,” ungkapnya.
Scoliosis merupakan salah satu kelainan bentuk tulang, yang mana struktur tulang belakang agak bengkok hingga membentuk huruf S atau C. Ini membawa tulang pada kondisi asimetri dari bentuk yang seharusnya.
Umumnya kelainan yang terbentuk adalah diagonal. Misalkan, jika bahu kanan terlihat lebih tinggi atau naik, maka panggul kiri tampak lebih tepos (melesak ke dalam). Ataupun sebaliknya.
“Banyak kasus orang mengalami scoliosis, tapi tidak merasakan sakit,” kata Direktur Slim+Health Sports Therapy yang berlokasi di RS Mitra Kemayoran, Jakarta Pusat, dr Michael Triangto SpKO.
Untuk menentukan derajat berat-ringan scoliosis, biasanya dibuat sebuah foto rontgen yang disebut foto scoliosis untuk melihat sudut cobb. Yakni, berapa besar sudut yang terbentuk dari pembengkokan tulang tersebut.
Besaran sudut kurang dari 10 derajat masih dikategorikan ringan. Biasanya pasien cukup diobservasi atau dikenai tindakan medis yang tidak berat.
“Jika besar sudut mencapai 10-40 derajat, pasien harus ditindak. Misalkan dengan sports therapy atau mengenakan korset mekanis. Untuk sudut lebih dari 40 derajat umumnya perlu operasi. Sebab, biasanya sudah terjadi penekanan ke organ-organ lain seperti paru-paru,” ujar penulis buku “Langsing dan Sehat dengan Sports Therapy” ini.
Korset mekanis adalah sejenis jaket yang didesain sedemikian rupa untuk menopang tubuh agar tetap tegak dan posisi tulang relatif di tengah. Fungsinya mirip gips penyangga leher. Namun, media ini punya kelemahan. Bosan, sesak, panas dan gatal merupakan alasan si pengguna menanggalkannya.
“Kalau si pemakai kerap membuka korsetnya, ya struktur tulang bisa kembali bengkok seperti semula,” terangnya.
Alternatif lain dalam membantu restrukturisasi tulang adalah metode sports therapy (terapi olahraga). Konsepnya tidak seperti olahraga biasa, tapi sebuah program pengobatan dengan olahraga terukur untuk meningkatkan derajat kesehatan atau membantu proses penyembuhan penyakit tertentu.
Dijelaskan Michael, ketidakseimbangan dalam struktur tulang penderita scoliosis juga menyebabkan adanya otot yang terlatih dan tidak terlatih sehingga timpang.
“Otot yang tidak terlatih ini harus dilatih sehingga lebih seimbang,” katanya.
Sama halnya dengan terapi olahraga untuk kasus lain, setiap klien scoliosis akan melalui pemeriksaan Elektro Miografi (EMG) untuk mengukur jumlah serat otot yang direkrut sehingga bisa menghasilkan suatu gerakan.
Makin banyak serat otot yangdirekrut, makin efisien kinerja gerak otot. Pemeriksaan EMG juga berperan menentukan jenis latihan yang paling tepat bagi klien. Ini sesuai prinsip dasar sports therapy, yakni olahraga tanpa rasa sakit.
“Setiap gerakan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing klien, juga bentuk kelainannya. Jadi sifat gerakannya spesifik dan individual. Namun, konsep dasarnya adalah gerakan asimetris yang ditujukan untuk membuat keseimbangan masing-masing otot menjadi lebih baik,” pungkasnya.(inda susanti)
Bisa Dipicu Gaya Hidup Restrukturisasi tulang akibat suatu kelainan seperti scoliosis tentu tidak bisa dilakukan begitu saja. Begitupun sports therapy, tujuannya hanya membantu menyeimbangkan struktur yang asimetris tadi, bukan total menyembuhkan. Apalagi, scoliosis konon merupakan kelainan yang sifatnya bawaan sejak lahir ataupun keturunan.
“Posisi duduk yang salah atau kebiasaan membawa bebanlebihberatdisatusisitubuh memang bisa menjadi pemicu scoliosis, tapi bukan penyebab,” tegas Michael Triangto. Hal ini dibenarkan Tania. Dia mengemukakan, terkadang kesibukan aktivitas dan sekolah membuatnya lalai dalam menjaga hal-hal yang seharusnya dicegah. Misalkan postur duduk harus benar dan tidak boleh terlalu gemuk.
“Saya harus rajin melakukan peregangan di rumah. Berenang juga bagus,”tuturnya. “Untungnya Tania masih dalam masa pertumbuhan, jadi kemungkinan perbaikannya lebih tinggi,” imbuh sang bunda,Agustin. Makin dini scoliosis terdeteksi, makin besar peluang keberhasilan restrukturisasi tulangnya.
Kasus ini memang jarang terdeteksi pada usia balita,umumnya baru disadari di usia belasan. Kendati kadang tidak bergejala, Michael mengemukakan bahwa ciri-ciri kondisi tulang belakang yang asimetris sebetulnya bisa dideteksi dini secara sederhana melalui pengamatan oleh diri sendiri ataupun orang lain.