Agar “Miss V” Tetap Remaja

Pascamelahirkan normal, bagi sebagian wanita takhanya membahagiakan, tapi juga merisaukan. Dari keluhan sulit menahan pipis sampai merasa vaginatak lagi kencang dan lentur. Belum lagi soal klasik, keputihan dan sejenisnya. Kini ada pilihanperawatan terapi ozon dan laser vagina.

Tindakan bedah bagi kaum wanita untukmemperbaiki dan membentuk dinding vagina akibat kelemahan dan kerusakan otot pendukungnya disebut dengan pelvic floor repair (PVR). Pertama kali diperkenalkan oleh dr.David Matlock dari LosAngeles, AS, pada tahun 1996.


Seiring dengan berubahnya zaman, PVR punmengalami perubahan menjadi laser vaginal rejuvenation (LVR) dan designer laser vaginoplasty(DLV). Dibandingkan dengan PVR, dua cara terakhir dilakukan dengan hanya mengganti pisaubedah pada PVR dengan laser. “Ini merupakan paduan bedah kebidanan dan kandungan denganbedah plastik,” papar dr.Ova Emilia, Sp.OG, MMED, Ph.D, dari Happy Land Medical Center,Yogyakarta, yang memperkenalkan laser vagina ini di Indonesia sejak tahun 2004.

Lakukan sekali sajaJika PVR menormalkan kembali anatomi vagina, kantung kemih, dubur, dan rahim, LVR memadukannya dengan rancangan estetika. Juga dimungkinkan untuk merekondisi vagina agarkembali seperti saat masih muda dengan tujuan untuk meningkatkan kenikmatan bercinta. Sedangkan pada DVR, sang wanita dilibatkan sebagai perancang untuk menentukan bagaimana vaginanya maudipermak.

Dibandingkan dengan bedah konvensional, laser vagina memiliki tingkat ketepatan dan ketelitian yangtinggi. Lama tindakan berkisar 1-2 jam, tergantung kasusnya. Bius pun lokal saja dari perut ke bawah. Memang ada risiko perdarahan dan infeksi, walau kurang dari 1 %.

Sebelum melakukan pembedahan, tahap pertama yang harus dilalui adalah konsultasi yang bisaberlangsung beberapa kali. Kemudian, sesuai dengan kasusnya, dokter akan memeriksa secara teliti kondisi vagina dan peranakan. Dokter akan menjelaskan secara rinci dan menyarankan tindakan apasaja yang akan diambil. Sebaliknya, pasien dan pasangan pun dapat mengajukan keinginan mereka. Misalnya, apakah perlu merapikan atau memperpendek otot yang kendur setelah melahirkan. Ada pulayang meminta diameter vaginanya dikecilkan.

Pascabedah, 5-7 hari kemudian, pasien sudha bisa berkegiatan seperti biasa. Namun, disarankan untuktidak melakukan kegiatan yang membahayakan vagina seperti mengangkat kaki tinggi-tinggi. Begitu juga dengan aktivitas seksual mesti ditunda hingga enam minggu pascabedah.

Satu yang mesti diingat, “Laser vagina ini sebaiknya dilakukan sekali saja, yaitu ketika sudahdiputuskan takkan melahirkan lagi. Kalau tiap kali melahirkan lalu dilaser, ingatlah bahwa jaringan yang terlalu sering disirna lama-lama akan mengeras. Kelenturannya berkurang,” kata dr.Ova.

Leave a Reply