Papsmear, Jauhi Kanker Leher Rahim

JAKARTA - Ancaman kanker leher rahim terus membayangi kaum wanita, khususnya bagi


mereka yang telah aktif berhubungan seksual. Papsmear menjadi upaya efektif mencegah penyakit ganas itu.

Papsmear merupakan pemeriksaan sitologi dengan tingkat sensitivitas yang cukup baik dan tergolong murah. Deteksi kanker rahim bisa dimulai dari pemeriksaan ini.

Kepala Divisi Onkologi–Ginekologi Dept Obstetri & Ginekologi FKUI Dr Laila Nurana SpOG (K) Onk mengatakan, tes papsmear terbukti cukup efektif menurunkan angka kejadian dan kematian yang diakibatkan kanker leher rahim.

“Sekitar 85–90% bisa mendeteksi kanker leher rahim. Tapi, masyarakat jangan salah bahwa selama ini banyak yang beranggapan papsmear ini untuk mendeteksi penyakit yang ada di kandungan atau rahim. Padahal, papsmear ini hanya dapat mendeteksi gejala kanker pada leher rahim,? ujarnya.

Jadi, sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun, sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker.

Selama masa tersebut, pengobatan yang tepat dapat segera menghentikan sel-sel abnormal berubah menjadi sel kanker. Sel-sel yang abnormal tersebut dapat dideteksi kehadirannya dengan suatu tes yang disebut papsmear. Dengan demikian, semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeteksi, semakin rendah risiko seseorang menderita kanker leher rahim.

Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (organ V).

Kanker ini biasa terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukkan bahwa kanker leher rahim dapat menyerang wanita berumur antara 20–30 tahun.

Sementara, papsmear adalah suatu tes yang aman, murah, dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.

Papsmear adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. Perubahan sel-sel leher rahim yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker.

Usahakan melakukan papsmear ini pada waktu seminggu atau dua minggu setelah berakhir masa menstruasi. Jika sudah menopause, tes papsmear dapat dilakukan kapan saja. Tetapi jika kandung rahim dan leher rahim telah diangkat atau dioperasi––hysterectomy atau operasi pengangkatan kandung rahim dan leher rahim––tidak perlu lagi melakukan papsmear karena sudah terbebas dari risiko menderita kanker leher rahim.

“Dalam pemeriksaan papsmear, sejujurnya belum ada ketentuan berapa kali, tapi biasanya dilakukan setiap dua tahun sekali. Selain itu, lebih baik dilakukan secara teratur. Hal yang harus selalu diingat adalah tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Papsmear selalu diperlukan biarpun Anda tidak lagi melakukan aktivitas seksual,? ujar Dr Laila.

Dia menambahkan, gejala kanker rahim antara lain keputihan terus-menerus dan berbau. Selain itu, ada perdarahan setiap berhubungan seksual. Normalnya, papsmear dilakukan berkala setiap tahun. Sayangnya, hingga saat ini masih banyak wanita di Indonesia berpikir melakukan papsmear bukan hal yang penting dan perlu. (lenny handayani/SINDO/via)

 

Leave a Reply