Niatnya Icip-Icip Fatal Akibatnya

AWALNYA CUMA COBA-COBA
Menurut dr. Lula Kamal, M.Sc, efek utama dari

narkoba adalah mengakibatkan adiksi atau kecanduan. Kandungan zat di dalamnya memengaruhi neurotransmitter pada otak dan saraf, yang menimbulkan rasa ketagihan, dan akhirnya berujung pada ketergantungan.

Baik di Indonesia maupun di negara mana pun, awal menjamurnya pengguna narkoba memiliki faktor pemicu yang berbeda-beda. Biasanya, pada anak muda, awalnya adalah faktor coba-coba, mencari jati diri, dan ingin diterima di lingkungan pertemanan. Pada orang dewasa, justru patut dipertanyakan. Sebab, mereka sudah tak lagi mencari jati diri, ‘kan?

Dokter Lula berpendapat, orang dewasa banyak memanfaatkan narkoba jenis psikotropika sebagai alat pemicu kinerja sehari-hari. Pasalnya, psikotropika dapat membuat mereka mampu bekerja dalam waktu yang panjang tanpa timbul rasa lelah.

LAIN JENIS, LAIN EFEK
Saking banyak jenisnya, maka efek narkoba tidak bisa disamaratakan begitu saja. Dari semua jenis narkoba yang ada, mungkin hanya ganja yang dapat langsung dirasakan stimulasi kenikmatan dan sensasi high-nya. Itu pun jika dicoba oleh seorang perokok, yang sudah biasa mengisap asap rokok dengan benar.

Jika seseorang sudah berhubungan dengan narkoba, batas waktu untuk berhenti di setiap kasus sangat tipis. Ada yang baru 3 bulan mencoba, tapi ketika diobati tak sembuh-sembuh. Lama penyembuhan tergantung pada pasien, yaitu keinginan kuat dan kegigihan dari diri sendiri.

Gawatnya, tak perlu menunggu terlalu lama. Dalam waktu 3 hari saja pengguna narkoba jenis heroin sudah langsung merasakan sakaw (putus zat) sebagai reaksi ketagihan yang tak terpenuhi. Tubuh terasa nyeri-nyeri, bahkan, katanya, sakitnya seperti ditusuk-tusuk pisau atau diinjak-injak kuda.

PINTU KELUAR PENUH RINTANGAN
Sekali lagi, dr. Lula menegaskan, narkoba tidak mengandung zat yang membuat kreativitas meningkat, atau bisa menumbuhkan rasa percaya diri secara natural. Kalaupun seseorang menjadi lebih percaya diri setelah mengonsumsi narkoba, itu karena stimulasi dari zat-zat yang terkandung di dalamnya, yang membuat tubuh terasa lebih segar.

Dalam proses penyembuhan dari heroin (yang menimbulkan sakaw), kini sudah tersedia obat pengganti yang disebut Metadon. Metadon sendiri masih mengandung heroin. Lho, kok, sama saja? Sabar dulu. Maksudnya, ketimbang heroin disuntikkan ke pembuluh darah, lebih baik diganti dengan heroin oral. Sebab, lewat jarum suntik –apalagi biasanya digunakan secara bergantian—penyakit-penyakit penyerta, mulai dari hepatitis B dan C, hingga HIV/ AIDS, mudah berkontaminasi.

Tujuan awal pemberian Metadon adalah untuk mengurangi dosis, sebelum kemudian masuk ke tahap pengobatan untuk menghentikan penggunaan heroin secara total.

Dokter Lula menyayangkan jika sisi baik seseorang justru harus dicari melalui benda terlarang yang membahayakan ini. Padahal, banyak cara lain yang bisa digunakan untuk memicu semangat hidup tanpa harus mempertaruhkan kesehatan dan jiwa.

Memang, cukup banyak yang beruntung dapat terselamatkan dari kejadian over dosis. Tapi, faktanya, pada saat terjadi situasi over dosis itu, biasanya lingkungan sekitarnya tidak tahu menahu, atau justru tengah tidak sadarkan diri juga. Akibatnya, korban terlambat dibawa ke rumah sakit. Dokter Lula tak memungkiri, banyak lingkungan pergaulan yang enggan menerima kehadiran seorang mantan pengguna narkoba. Ini adalah sebuah masalah individual yang berimplikasi sosial.“Pelajaran intinya, tidak perlulah mencoba-coba narkoba, dengan alasan apa pun. Sekali mencoba, akibatnya fatal!” tegas dr. Lula.

Leave a Reply