Pertanyaan ini sering diajukan oleh para calon ibu karena dua alasan.
Pertama ketika alat uji menunjukkan negatif saat mereka berharap untuk hamil, atau justru positif saat mereka tidak menginginkan kehamilan karena berbagai alasan.
Tes uji kehamilan memiliki keakuratan antara 95 - 99,5 persen, jika dilakukan pada periode yang tepat dalam siklus menstruasi atau saat setelah dilakukan hubungan seksual yang berisiko tinggi terjadinya kehamilan.
Sebagai patokan, Anda bisa menggunakan alat uji dua hari sebelum menstruasi atau 12 hari setelah hubungan seksual di masa subur. Melakukan tes di luar masa-masa tersebut akan percuma karena Anda harus mengulanginya lagi untuk memastikan hasilnya akurat.
Ada dua jenis alat uji kehamilan, yakni berbentuk strip dan card. Penggunaan keduanya tergolong mudah. Cara pakai alat uji strip dengan dicelupkan ke dalam wadah berisi air seni segar (urin pertama pagi hari) dari wanita yang akan diperiksa. Pencelupan sebatas garis di bawah tanda panah, kemudian diangkat setelah beberapa waktu (dari 2 - 30 detik).
Hasilnya akan terlihat setelah beberapa menit (kurang dari 10 menit), dibarengi munculnya garis merah pada alat uji.
Sedangkan pada bentuk card, contoh urin diteteskan 4 - 5 tetes ke tempat urin pada card. Hasilnya bisa dibaca setelah 1 - 5 menit. Jika muncul dua garis berwarna merah, berarti dinyatakan positif (hamil) dan negatif jika tidak hamil.
Untuk mendapatkan hasil yang akurat, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Gunakan wadah yang bersih, pastikan tidak mengandung sisa detergen atau bahan kimia lain.
2. Jangan gunakan alat uji yang sudah kadaluarsa.
3. Disarankan untuk memakai urin pagi hari karena tingkat kepekatannya masih tinggi.
4. Memakai contoh urin yang mengandung darah atau dari vagina yang mengalami infeksi virus akan mempengaruhi hasil alat uji.
5. Apapun hasil dari alat uji, Anda harus tetap melakukan konfirmasi ke dokter. Semoga hasilnya sesuai dengan diharapkan.
Penulis:Â An