Rasyid (73 tahun) sudah seminggu mengalami sembelit atau konstipasi. Biasanya, ia selalu BAB (Buang Air Besar) secara teratur.
Namun ia mengakui, bahwa akhir-akhir ini ia memang minumnya tidak mencapai delapan gelas per hari. Inikah penyebabnya?
Menurut dr Probosuseno SpPD, dari Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UGM/SMF Geriatri RS Dr Sardjito, konstipasi atau sembelit adalah terhambatnya defekasi (buang air besar) dari kebiasaan normal. Dapat diartikan sebagai defekasi yang jarang, jumlah feses (kotoran) kurang, atau fesesnya keras dan kering.
Semua orang dapat mengalami konstipasi, terlebih pada lanjut usia (lansia) akibat gerakan peristaltik (gerakan semacam memompa pada usus, red) lebih lambat dan kemungkinan sebab lain. Kebanyakan terjadi jika makan kurang berserat, kurang minum, dan kurang olahraga. Kondisi ini bertambah parah jika sudah lebih dari tiga hari berturut-turut.
Kasus konstipasi umumnya diderita masyarakat umum sekitar 4-30 persen pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Ternyata, wanita lebih sering mengeluh konstipasi dibanding pria dengan perbandingan 3:1 hingga 2:1. Insiden konstipasi meningkat seiring bertambahnya umur, terutama usia 65 tahun ke atas. Pada suatu penelitian pada orang berusia usia 65 tahun ke atas, terdapat penderita konstipasi sekitar 34 persen wanita dan pria 26 persen.
Konstipasi bisa terjadi di mana saja, dapat terjadi saat bepergian, misalnya karena jijik dengan WC-nya, bingung caranya buang air besar seperti sewaktu naik pesawat dan kendaraan umum lainnya. Penyebab konstipasi bisa karena faktor sistemik, efek samping obat, faktor neurogenik saraf sentral atau saraf perifer. Bisa juga karena faktor kelainan organ di kolon seperti obstruksi organik atau fungsi otot kolon yang tidak normal atau kelainan pada rektum, anak dan dasar pelvis dan dapat disebabkan faktor idiopatik kronik.
Penyebab konstipasi secara sistemetik ada beberapa hal yaitu:
1. Mekanik, yaitu karena ada sumbatan (obstruksi) atau ketidaklancaran gerakan peristaltik usus misalnya akibat kanker, divertikulitis (radang divertikel), stenosis (penyempitan pembuluh/saluran), megakolon (pelebaran usus besar), ileus paralitik (obstruksi usus yang menimbulkan mulas yang hebat dan muntah-muntah).
2. Fisiologik, dehidrasi, diet rendah serat, penyakit dengan demam, kurang tidur, pembedahan penyakit yang melemahkan dan kehamilan.
3. Psikogenik atau tingkah laku, kebiasaan buruk (mengabaikan keinginan untuk buang air besar) dan cemas.
4. Farmakologik, opiat, kodein, morfin, antidepresan trisiklik, antikolinergik, antasida yang mengandung aluminium. Umumnya, akibat lanjutnya (prognosis) meliputi kejadian yang baru saja terjadi (akut), karena penyakit atau inaktifitas yang terpaksa. Tetapi bisa saja kurang baik pada jenis psikogenik atau akibat tingkah laku (jika tidak ada perbaikan yang serius). Untuk mengetahui secara pasti penyebabnya, perlu amnanesa yang teliti dan pemeriksaan klinis, digital, proktoskopi (pemeriksaan rektum dengan spekulum) dan sigmoidoskopi. Konstipasi mudah dicegah
Mencegah konstipasi secara umum ternyata tidaklah sulit. Lagi-lagi, kuncinya adalah mengonsumsi serat yang cukup. Serat yang paling mudah diperoleh adalah pada buah dan sayur. Jika penderita konstipasi ini mengalami kesulitan mengunyah, misalnya karena ompong, haluskan sayur atau buah tersebut dengan blender.
Ada sederet sayur dan buah yang kaya akan serat. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) di Amerika Serikat, beberapa di antara lebih baik dikonsumsi mentah, misalnya wortel, zucchini (disebut juga timun Jepang, red), dan kol. Sedangkan buah yang kaya serat antara lain apel, rasberi, dan peach.
Tips lainnya, kata Probo, Anda dapat juga mengonsumsi agar-agar, makan cabe untuk merangsang gerak usus. Tentu saja, konsumsi sehari-hari juga harus cukup air; olahraga, jalan-jalan, dan tidak menunda terlalu lama jika terasa hendak buang air besar.
Probo mengatakan terapi diberikan sesuai penyebabnya dan pada lansia pengobatannya harus hati-hati. Untuk pengobatan biasanya dimulai fase 1 yaitu perubahan kebiasaan hidup meliputi latihan BAB secara teratur, dikombinasi olahraga, dan diet banyak cairan minimum 1500 cc/hari air/jus buah, makanan yang berserat, sehari 20-30 gram.
Jika belum membaik, kata Probo, maka terapi memasuki fase 2, yaitu penggunaan obat-obatan laksatif atau supositoria dan enema serta terapi lainnya seperti zat prokinetik (cisaprid) dan terapi psikologi. ”Obat pencahar bisa mengganggu penyerapan vitamin, mineral, dan gizi lain,” kata dia. Jika fase 2 tidak efektif, maka perlu pemeriksaan radiologis. Bahkan pada konstipasi tertentu, perlu tindakan operatif.
Apakah Serat Makanan?
Serat makanan adalah karbohidrat kompleks yang tidak bisa dicerna dan diserap. Menurut situs Diet Site, karena tidak bisa diserap oleh tubuh, maka serat makanan tidak mengandung kalori.
Adu dua jenis serat makanan, yaitu yang bisa larut (soluble) dan tidak bisa larut (insoluble) yang memiliki fungsi masing-masing. Serat yang bisa larut ini diyakini mampu menurunkan kolesterol darah. Jenis ini terdapat pada apel, bit, wortel, peach, pir, jeruk, anggur, oat, dan biji wijen.
Sedangkan serat yang tidak dapat larut, efektif dalam mencegah dan mengobati konstipasi serta mengurangi risiko kanker usus halus dan usus besar. Anda dapat menemukan jenis ini pada kol, apel, bit, jagung, kacang-kacangan, wortel, kentang, tomat, gandum-ganduman yang terdapat roti whole-grain (roti yang berwarna cokelat), beras merah, buah-buahan, dan sayuran lain yang berkulit.
 (idionline/RoL)