Puasa Menyehatkanmu

Kata “marhaban” (selamat datang) diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu”.


la sama artinya dengan “ahlan wa sahlan” yang juga diartikan “selamat datang” (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Walau keduanya berarti “selamat datang”, ada perberbedaan dalam hal penggunaannya. Para ulama tidak menggunakan “ahlan wa sahlan ya Ramadhan” untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”. Ahlan berasal dari kata ahl yang berarti “keluarga”. Sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti “mudah”. Sahl juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui. Jadi, ahlan wa sahlan menyiratkan makna : “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.” Marhaban berasal dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan. serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat, yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan”. Jadi, marhaban ya Ramadhan berarti “selamat datang Ramadhan” dan menyiratkan arti bahwa kita menyambutnya dengan dada lapang, penuh kegembiraan.

Kini, Ramadhan telah datang. Di bulan ini, seluruh kaum muslim diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh, agar manusia bertakwa (QS 2 : 183). Kalau kita perhatikan lebih jauh, ternyata puasa juga bermanfaat untuk kesehatan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : ”Berpuasalah, niscaya kamu sehat”. Puasa memberi kesempatan bagi organ tubuh untuk beristirahat dan menghentikan sementara pemasukan makanan, yang bisa membusuk dalam usus. Puasa juga melancarkan eliminasi (penyingkiran) sisa metabolisme, memberi kesempatan pada tubuh untuk mengatur dan menormalkan reaksi biokimia serta sekresi, membiarkan tubuh membongkar serta memperbaiki jaringan yang sakit, endapan serta pertumbuhan yang tidak normal.

Sekitar 600 milyar sel dalam tubuh menghimpun diri agar dapat bertahan hidup. Sehingga, pembaruan (regenerasi) sel-sel serta jaringan yang dilakukan setiap hari dapat mencegah penuaan. Menu kaya serat (buah dan sayur) saat berbuka puasa dapat memperlancar proses pengurasan sampah metabolisme, seperti ureum dan radikal bebas. Proses yang lazim disebut detoksifikasi ini mampu menipiskan konsentrasi radikal bebas, sehingga sel-sel menjadi lebih segar dan elastis.

Santap sahur dengan komposisi gizi yang kurang memadai bisa menjadi biang lesu keesokan harinya. Namun, kita bisa mengusir kelesuan dengan cara “membohongi” fungsi fisiologis tubuh. Jangan bermalas-malasan atau tiduran saja. Lakukan aktivitas fisik ringan, agar tubuh mengaktifkan hormon antiinsulin untuk menarik simpanan gula darah.

Perubahan fisik dan biokimia yang terjadi selama berpuasa, tidak hanya berpengaruh terhadap jasmani, tetapi juga psikis. Hal ini disebabkan oleh adanya keterlibatan antara system hormone dan syaraf pusat. Hormon kortisol, adrenalin dan nonadrenalin sangat tergantung pada aktifitas susunan syaraf pusat, terutama hypothalamus dan hipofisis. Sementara, kedua syaraf pusat tersebut sangat erat kaitannya dengan aktifitas kejiwaan manusia, seperti : emosi, motivasi dan proses berpikir. Di dalam system syaraf pusat terdapat subsistem yang disebut dengan system limbik yang merupakan sentral pengendali emosi. Dari mekanisme pengendalian emosi akan timbul sikap dan motivasi positif atau negative. Sehingga, puasa juga bermanfaat untuk melatih pengendalian emosi.

Fase Awal (2 – 3 hari pertama puasa)

Gejala : perut lapar, badan letih dan cepat marah. Penyebab : rendahnya kadar glukosa dalam darah

Glukosa merupakan salah satu molekul bahan bakar utama pemicu metabolisme makhluk hidup, terutama organ hati, otak, jantung, otot, dan jaringan adiposa. Glukosa yang berlebih akan disimpan di dalam hati berupa glikogen. Bila kadar gula darah turun, glikogen akan dirubah menjadi glukosa melalui proses glikolisis yang melibatkan enzim glukokinase. Ketidakseimbangan gula dalam darah akan menyebabkan gangguan. Kekurangan pasokan glukosa akan menyebabkan hipoglikemia (salah satu gejalanya adalah tremor atau gemetar).Oleh karena itu, saat berbuka puasa dianjurkan untuk memakan makanan ringan yang manis (misal: kurma). Makanan yang manis akan dirubah menjadi glukosa dengan cepat, sehingga kadar glukosa dalam darah segera pulih.

Fase Ketosis (hari ke 3 – 14)

Gejala : kurang selera makan, mata berkunang-kunang, nafas berbau, lidah berwarna putih. Penyebab : ketosis (kondisi darah terlalu basa)

Ketosis terjadi akibat proses glukoneogenesis. Kekurangan glukosa menyebabkan tubuh membongkar lemak sebagai sumber energi pengganti glukosa. Fase ini adalah fase pembuangan racun dan benda kotor dalam tubuh. Racun dan benda kotor banyak terdapat pada orang gemuk, orang yang makan makanan tercemar, pemakai narkoba dan penderita penyakit tertentu (misal : arthritis). Racun tersebut menyebabkan kondisi asidosis (kondisi darah terlalu asam). Jika racun atau benda kotor dalam tubuh berjumlah banyak, maka puasa pendahuluan di bulan Sya’ban (sebelum tanggal 30 Sya’ban) akan membantu meringankan proses pembuangan selama Ramadhan.

Fase Akhir (hari ke 14 sampai akhir)

Gejala : lidah bersih, bau nafas hilang, selera makan baik, tenaga pulih, kadar glukosa dalam darah normal.(z)

Panganplus
 
 

Leave a Reply