Jakarta, Selasa Oleh: dr. Hary UtomoMuhammad, DSJP,
Mereka yang mudahpingsan kerap dianggap lemahjantung.
Apalagi jantungnya seringberdebar-debar. Padahal memakaibaju dan kerah ketat pun bisa berdampakburuk.
Pernahkah saat Andaberdiri mengikuti upacara di lapanganatau sedang menghadiri resepsiresmi, mendadak terasa jantungberdebar-debar, degupnya jantungkencang, disusul kepala serasa ringanserta badan lemas, keringat dingin,pandangan berkunang-kunang dan akhirnya gelap lalu jatuh pingsan?
Penyebab kejadian seperti itu bisa saja karena jantung kita kurang beres, tapi bisajuga karena faktor luar. Apalagi kalau kita tidak mempunyai riwayat kelainan jantung ataupun faktor risiko penyakit jantung dan usia relatif masih muda.
Sebagian besar kasus pingsan yang bukan karena kelainan jantung (sinkop non-kardik) menurut para ahli, lebih disebabkan karena terkena hipersensitivitas vagus. Vagus adalah saraf otak kesepuluh yang mensarafi organ bagian dalam tubuh dansangat berpengaruh terhadap frekuensi detak jantung.
Salah satu pencerminan hipersensitivitas vagus dikenal sebagai sinkop vasovagal(berkaitan dengan pembuluh darah dan nervus vagus) dan vasodepresif. Ini terjadi karena timbulnya ketidakseimbangan refleks saraf otonom dalam bereaksi terhadapposisi berdiri yang berkepanjangan.
Berawal dari kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh venabawah akibat gravitasi bumi, hal ini menyebabkan jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang sehingga curah ke jantung serta tekanan darah sistoliknyamenurun.
Guna mengatasi penurunan tersebut, otomatis timbul refleks kompensasi normal, berupa bertambahnya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung, dengantujuan mengembalikan curah ke jantung ke tingkat semula.
Pada seseorang yang hipersensitif, bertambahnya kekuatan kontraksi ini justrumengaktifkan reseptor mekanik yang ada pada dinding bilik jantung kiri sehingga timbul refleks yang dinamakan refleks Bezold-Jarisch (sesuai nama penemunya).
Efeknya, frekuensi detak jantung berbalik menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan kemudian terjadi tekanan darah rendah (hipotensi) sehingga alirandarah ke susunan saraf terganggu.
Di sinilah sinkop terjadi. Namun untuk menentukan diagnosis, pada umumnya dokter menganjurkanpemeriksaan tilt test, di mana hasil tes dapat digunakan sebagai acuan pemeriksaan lebih lanjut bila diperlukan.
Mencegah pingsan Untuk mencegah agar jangan sampai pingsan, sewaktu gejalanya terasamasih ringan misalnya baru terasa berdebar-debar, coba sedikit gerakgerakkan tungkai atau kaki, sambil sekali-kali batuk kecil.
Adakalanya cara tersebut dapat dibantu lagi dengan mengalihkan perhatian kitasesaat. Misalnya kalau sedang berada dalam suatu upacara perhatikanlah peserta lain di depan kita satu per satu, mengingat-ingat kejadian menyenangkan yangpernah kita alami, menggumamkan lagu kesayangan atau lagu mars pembangkit semangat Anda.
Kalau dengan cara tersebut gejala tidak juga berkurang, tetapi malah mulaimengeluarkan keringat dingin ditambah kepala terasa melayang, apa boleh buat! Lebih baik Anda langsung jongkok, duduk, atau mundur mencari tempat berbaringagar tungkai dapat dinaikkan lebih tinggi dari kepala.
Biasanya dalam waktu singkat akan terasa lebih nyaman dan pulih kembali. Apalagi kalau ditambah denganminuman segar. Sebaliknya, kalau kita harus menolong orang yang pingsan, menurut PanduanKesehatan Keluarga, 1996 (Yayasan Essentia Medica) sebaiknya lakukan tip praktis berikut ini:
Baringkan penderita di tempat tidur dengan kepala dimiringkan. Hati-hatilah agarposisi kepala jangan ditinggikan. Bila penderita berada di kursi, dorong kepala ke bawah serendah mungkin di antara kedua lutut. Longgarkan pakaian yang ketatagar aliran darahnya tak terganggu.
Bila perlu, teteskan air dingin di kening atau leher untuk mempercepat pulihnya kesadaran. Jangan memberikan apa pun lewatmulut apabila penderita belum sadar.
Panggil dokter terdekat atau ambulans bila tidak kunjung sadar. Karena kerah baju ketat Hipersensitivitas vagus dapat juga berupa sinkop sinus karotis, yaknijatuh pingsan bukan dicetuskan oleh sikap berdiri yang lama tetapi saat menoleh mendadak.
Ini bisa terjadi bila penderita mengenakan baju berkerah tinggi terlalu ketat,sehingga gerakan kepala menyebabkan penekanan pada sinus karotis yang terletak pada leher samping agak ke depan. Hal ini bisa mengakibatkan detak jantungmelambat dan menimbulkan sinkop.
Jika dilakukan pemeriksaan elektro-fisiologi (pemeriksaan aktivitas listrik jantung)pada penderita, umumnya terlihat fungsi listrik jantung bekerja dalam batas normal. Hanya saja adanya manipulasi ringan berupa penekanan leher di daerah sinuskarotis tadi tampak berupa garis datar pada layar monitor.
Artinya, terjadi gangguan aktivitas atau hantaran listrik saat dilakukan manipulasi tadi. Untuk mencegah jangan sampai mengalami hal tersebut, hindari penggunaan kerahbaju yang terlalu ketat dan jangan memijat daerah leher atau hal lain lagi yang menyebabkan tekanan pada sinus karotis.
Penampilan lain lagi yang langka dari hipersensitivitas vagus adalah paroxysmalsinus arrest. Di sini sumber listrik utama jantung adakalanya mengalami penghentian (pause) selama 6 - 23 detik tanpa adanya faktor pencetus yang jelas.
Kejadian inibisa saat tidur maupun saat aktif, siang atau malam, dengan akibat hampir pingsan atau pingsan (presinkop atau sinkop). Di sini hasil pemeriksaan denganelektrofisiologi terhadap sumber listrik jantung pun menunjukkan normal, tapi pada umumnya pengobatan diarahkan pada penggunaan alat pacu jantung permanenyang ditanamkan di bawah kulit dada penderita.
Untuk mencegah terjadinya sinkop yang bukan karena kelainan jantung tadi, antaralain dengan berolahraga seperti joging, bersepeda, berenang, atau melakukan olahraga dinamis yang menguatkan otot tungkai.
Kalau sinkop jelas disebabkan oleh kelainan jantung tentu Anda diajurkanberkonsultasi dengan dokter jantung agar dilakupengobatan yang lebih tepat. (intisari)