Jakarta, Kompas KULIT merupakanorgan tubuh yang terpenting yangberfungsi sebagai sawar (barrier),karena kulit
merupakan organpemisah antara bagian di dalamtubuh dengan lingkungan di luartubuh.
Kulit secara terus-menerus terpajan terhadap faktorlingkungan, berupa faktor fisik, kimiawi,maupun biologik. Demikiandikemukakan Prof Dr dr Retno WidowatiSoebaryo SpKK(K) dalam pidatopengukuhannya sebagai Guru BesarTetap Ilmu Kesehatan Kulit dan KelaminFakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta, Sabtu (8/1).
Menurut Retno Widowati, bagian terpenting untuk menjalankan fungsinya sebagaisawar adalah lapisan paling luar, disebut sebagai stratum korneum atau kulit ari.
Meskipun ketebalan kulit hanya 15 milimikro, namun sangat berfungsi sebagaipenyaring benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Apabila terjadi kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan melampaui kapasitas toleransi sertadaya penyembuhan kulit, maka akan terjadi penyakit.
Apabila ditinjau lebih lanjut, penyakit kulit akibat kerja (PKAK) sebagai salah satubentuk penyakit akibat kerja, merupakan jenis penyakit akibat kerja terbanyak yang kedua setelah penyakit muskulo-skeletal, berjumlah sekitar 22 persen dari seluruhpenyakit akibat kerja.
Data di Inggris menunjukkan 1.29 kasus per 1000 pekerja merupakan dermatitisakibat kerja. Apabila ditinjau dari jenis penyakit kulit akibat kerja, maka lebih dari 95 persen merupakan dermatitis kontak, sedangkan yang lain merupakan penyakit kulitlain seperti akne, urtikaria kontak, dan tumor kulit.
Data mengenai insidens dan prevalensi penyakit kulit akibat kerja sukar didapat,termasuk dari negara maju, demikian pula di Indonesia. Umumnya pelaporan tidak lengkap sebagai akibat tidak terdiagnosisnya atau tidak terlaporkannya penyakittersebut.
Hal lain yang menyebabkan terjadinya variasi besar antarnegara adalah karenasistem pelaporan yang dianut berbeda. Effendi (1997) melaporkan insiden dermatitis kontak akibat kerja sebanyak 50 kasus per tahun atau 11.9 persen dari seluruhkasus dermatitis kontak yang didiagnosis di Poliklinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI-RSUPN dr Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Di AS angka statistik berasal dari survei yang dilakukan oleh Bureau of LaborStatistic pada industri swasta yang didata secara random. Di Inggris pelaporan melibatkan dokter spesialis kulit yang bekerja pada beberapa pusat kesehatan.
Diagnosis ditetapkan secara sederhana termasuk menetapkan jenis pekerjaan yang dilaksanakan. Pengamatan yang dilaksanakan pada berbagai jenis pekerjaan di berbagai negarabarat mendapatkan insiden terbanyak terdapat pada penata rambut 97.4 persen, pengolah roti 33.2 persen dan penata bunga 23.9 persen.
*** APABILA ditinjau dari masa awitan penyakit, maka masa awitan terpendekadalah dua tahun untuk pekerjaan penataan rambut, tiga tahun untuk pekerjaan industri makanan, dan empat tahun untuk petugas pelayanankesehatan dan pekerjaan yang berhubungan dengan logam.
Ditemukan pula pengaruh gender, perempuan dikatakan lebih berisiko mendapatpenyakit kulit akibat kerja dibandingkan dengan laki-laki.
Berkaitan dengan umur, maka umur 15-24 tahun merupakan usia dengan insidens penyakit kulit akibat kerjatertinggi Hal tersebut mungkin disebabkan oleh pengalaman yang masih sedikit dan kurangnya pemahaman mengenai kegunaan alat pelindung diri.
Sensitisasi sesuaidengan jenis pekerjaan terjadi pada 52 persen kasus. Dermatitis kontak secara umum merupakan penyakit spesifik-lingkungan, yaitu suatu peradangan kulit akibat bahan yang berasal dari lingkungan.
Terdapat dua jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) dandematitis kontak alergik (DKA). Kedua jenis tersebut kadang-kadang sangat sukar dibedakan secara klinis, meskipun keduanya berbeda dalam patogenesis yangmendasarinya.
Insidens dermatitis kontak iritan lebih tinggi dibandingkan dengan dermatitis kontak alergik. Dermatitis kontak iritan merupakan kelainan sebagai akibat pajanan dengan bahantoksik non-spesifik yang merusak epidermis dan/atau dermis. Umumnya setiap orang dapat terkena, bergantung pada kapasitas toleransi kulitnya.
Penyakit tersebutmempunyai pola monofasik, yaitu kerusakan diikuti dengan penyembuhan. Dermatitis kontak iritan dapat terjadi melalui dua jalur: efek langsung iritanterhadap keratinosit dan kerusakan sawar kulit.
Efek langsung iritan pada keratinosit, pada DKI akut, penetrasi iritan melewati sawarkulit akan merusak keratinosit dan merangsang pengeluaran mediator inflamasi diikuti dengan aktivasi sel T.
Selanjutnya terjadi akumulasi sel T dengan aktivasitidak lagi bergantung pada penyebab. Hal tersebut dapat menerangkan kesamaan jenis infiltrat dan sitokin yang berperan antara DKI dan DKA.
Peradangan hanyamerupakan salah satu aspek sindrom DKI. Apabila terjadi pajanan dengan konsentrasi suboptimal maka reaksi yang terjadi langsung kronik. Stratum korneum atau kulit ari merupakan sawar kuli yang sangat efektif terhadapberbagai bahan iritan karena pembaharuan sel terjadi secara berkesinambungan dan proses penyembuhan berlangsung cepat.
Apabila waktu pajanan lebih pendekdaripada waktu penyembuhan, sehingga sel-sel keratinosit tidak sempat sembuh, maka akan terjadi gejala klinis DKI kumulatif. Kerusakan sawar lipid berhubungan dengan kehilangan daya kohesi antar korneositdan deskuamasi diikuti dengan peningkatan trans-epidermal water loss (TEWL).
Hal tersebut merupakan rangsangan untuk memacu sintesis lipid, proliferasi keratinositdan hiperkeratosis sewaktu transient sehingga dapat terbentuk sawar kulit dalam keadaan baru. (LOK)