Under: Jadwal, Jenis, dan Jumlah Makanan
Siapa bilang penderita diabetes mellitus tidak bisa hidup aktif dan nyaman? Dengan penanganan yang tepat, hal tersebut bisa diwujudkan.
Untuk mendapatkan hasil terbaik, hal pertama yang harus dilakukan penderita DM adalah mengetahui tipe diabetes yang diderita. Hasil dari pemeriksaan ini menentukan jenis terapinya. Selain rutin mengonsumsi obat, penderita DM juga harus mengikuti pola hidup dan diet tertentu.
Disebutkan oleh Prof Dr dr Askandar Tjokroprawiro SpPD-KEMD, pengaturan pola makan bagi penderita DM sebenarnya tidak susah. “Tidak semua dilarang, tetapi harus dibatasi,” kata ketua Pusat Diabetes dan Nutrisi RSU dr Soetomo Surabaya ini. Pola makan pada penderita DM intinya adalah 3 J. Yaitu, jadwal makan yang teratur, jenis makanan yang dibatasi, dan jumlah makanan yang dihabiskan. Perlu diingat, prinsip 3 J ini berbeda antara satu penderita dengan penderita lainnya. “Bergantung berat badan dan tinggi badan,” kata Eko Dwi Martini DCN, ahli gizi dari RSU dr Soetomo Surabaya. Selain itu, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi. Syarat itu bergantung pada tipe DM yang diderita, jumlah kalori, dan jumlah lemak yang dibutuhkan.
Untuk itu, Eko menyarankan agar penderita DM mulai menghitung jumlah kalori yang boleh dikonsumsi. Jumlah kalori yang dibutuhkan itu dapat dihitung setelah penentuan status gizi menggunakan rumus berat badan relatif. Rumusnya, berat badan dibagi hasil pengurangan antara tinggi badan dengan 100, kemudian dikalikan 100 persen* (lihat tabel). “Hasil perhitungan yang sudah ditemukan itu digunakan sebagai dasar konsumsi kalori sehari-hari,” sambung Eko.
Sementara itu, untuk jadwal makan, penderita DM disarankan untuk membagi waktu makan. Pembagian itu adalah tiga kali makan besar plus makan snack tiga kali. “Masing-masing berjarak tiga jam,” terangnya. Misalnya, jika sarapan dimulai pukul 07.00, maka snack pertama bisa dimakan pukul 10.00. Setelah itu, dilanjutkan makan siang pukul 13.00 dan snack pukul 16.00, dan seterusnya.
Pengaturan ini berguna untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada penderita DM. Pasalnya, penderita DM lebih mudah merasa lapar dan lemas. Sebab, karbohidrat dari makanan yang disantap, hanya sedikit yang diubah menjadi energi. Untuk mengatasi hal ini, perbanyak makan buah, sayuran, dan makanan yang mengandung banyak serat. “Serat bisa menunda rasa lapar lebih lama,” ujar Eko. Selain itu, karena mudah berkeringat dan buang air kecil, penderita DM harus banyak minum.
Saran-saran ini bertujuan untuk menjaga kadar gula darah penderita selalu berada dalam batas normal. Sekaligus, meminimalkan kemungkinan komplikasi. Keluhan lain yang bisa muncul akibat komplikasi DM bermacam-macam. Mulai gangguan pengelihatan, sakit jantung, ginjal, disfungsi seksual, dan gangren.
Selain pengaturan pola makan, yang tidak kalah penting adalah olah raga. Aktivitas ini membantu menurunan berat badan dan mencegah kegemukan. Selain itu, membantu mengontrol kadar gula darah. Untuk jenisnya, sebaiknya memilih jenis olah raga yang berirama seperti berenang, bersepeda, atau lari.(tia)
Kurangi Buah Manis Pakai foto-foto buah
Gula harus dihindari penderita DM untuk selamanya atau seumur hidup.”Gunakan secara terbatas untuk menambah rasa pada masakan saja,” Eko Dwi Martini DCN, ahli gizi dari RSU dr Soetomo Surabaya.
Makanan yang paling aman untuk penderita DM adalah buah-buahan dan sayur. Dua jenis makanan ini mengandung banyak serat yang berfungsi mengikat kolesterol dan memperlambat naiknya kadar gula dalam darah. Akibatnya, kebutuhan tubuh akan insulin juga menurun Selain itu, sayuran dan buah juga menunda pengosongan lambung sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama.
Namun, perlu diperhatikan. Tidak semua buah dan sayur bisa dikonsumsi dengan aman oleh penderita DM. Beberapa buah seperti anggur, duku, sawo, durian, jeruk, mangga, rambutan, sirsak, dan nangka mempunyai kadar gula yang cukup tinggi. “Sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah terbatas,” tambah Eko. ]
Selain buah dan sayur, pengolahan makan juga perlu diperhatikan. “Kurangi penggunaan minyak goreng. Jika ingin menggoreng, bisa memilih minyak tak jenuh tunggal seperti minyak zaitun dan canola,” sarannya. Lebih amannya, olah masakan dengan cara direbus, dikukus, atau dibakar.(tia)