29 Mei, Hari Menopause Sedunia

Jawa Pos,Senin, 29 Mei 2006,
Ada Tiga Jenis Menopause
BAGI sebagian wanita yang menginjak usia senja, menopause bisa jadi hantu yang menakutkan. Bagaimana tidak, bermacam keluhan dimiliki oleh mereka.

Seperti tubuh bagian atas terasa panas (hot flashes), berkeringat di malam hari, maupun mudah lelah. Namun sejatinya, apa penyebab menopause?

Staf medis obstetri-ginekologi RSU dr Soetomo Surabaya, dr Hendy Hendarto SpOG (KFER) menjelaskan, ada tiga macam menopause. Yakni menopause alami, bawaan, serta karena operasi. Menopause alami terjadi akibat wanita yang termakan usia. Biasanya, terjadi pada wanita berusia 50 tahun ke atas. “Karena bertambahnya usia, hormon estrogen pun berkurang. Sehingga indung telur tak berfungsi dan mengakibatkan wanita tak mengalami menstruasi,” ungkapnya.

Kapan wanita dinyatakan menopause? Seorang wanita bisa dikatakan menopause bila yang bersangkutan tak mengalami menstruasi dalam waktu setahun lebih. Hendy menambahkan, bila seorang wanita berhenti menstruasi, namun enam bulan kemudian menstruasi kembali, berarti yang bersangkutan belum bisa dibilang menopause.

Selanjutnya, menopause yang disebabkan operasi. Hal ini biasanya terjadi akibat organ reproduksi wanita bersangkutan mengalami masalah. Sehingga, dia tak mengalami menstruasi. Dan, yang terakhir adalah menopause bawaan. “Artinya, sejak awal seorang wanita tak mengalami menstruasi,” ujarnya.

Karena banyak wanita menopause yang risau dengan akibat yang dialaminya, para staf medis pun menerapkan terapi sulih hormon (TSH). Tujuannya, agar hormon estrogen yang berkurang pada wanita berumur dapat diganti dengan hormon sintetis. “Dengan catatan, terapi ini hanya bisa diberikan pada wanita yang mengalami menopause alami,” timpal Hendy.

Namun sayangnya, terapi ini menimbulkan kontradiksi pada beberapa pihak. Pasalnya, TSH sintetis ini berisiko kanker payudara. “Namun, terapi ini memang dapat mengatasi keluhan jangka pendek pada wanita menopause. Seperti hot flashes, berkeringat di malam hari, lelah, serta cairan vagina yang berkurang,” jelasnya.

Menanggapi kontradiksi seperti ini, suplai hormon yang awalnya merupakan hormon rekayasa buatan pabrik, kini muncul hormon yang berasal dari tumbuhan dinamakan Phytoestrogen. Bahan-bahan yang terdapat di dalamnya adalah Isoflavone, Coumesteb, serta Lignans.

Bahan-bahan yang terkandung dalam Phytoestrogen disinyalir tak hanya mampu mengurangi keluhan jangka pendek, keluhan semacam osteoporosis yang termasuk keluhan jangka panjang pun dapat teratasi. “Sebab, pada Phytoestrogen terdapat kalsium dan genistein yang dapat berfungsi sebagai pembentuk tulang,” jelasnya. Lalu, vitamin D3 yang dapat mengatasi absorpsi dan deposisi kalsium, serta vitamin K1 yang bisa mengarbosilasi protein tulang untuk retensi kalsium. (sna)

Leave a Reply