Satu dari Tiga Wanita Indonesia Rawan Terkena Osteoporosis

(Tri Wahyuni)
Wanita Indonesia rawan terkena penyakit keropos tulang (osteoporosis) akibat gaya hidup yang tidak sehat. Yaitu, minim aktivitas fisik, sedikit sekali mengkonsumsi makanan berserat, terlalu banyak makan makanan berlemak serta tidak suka mengonsumsi kalsium.

“Saat ini, satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria Indonesia memiliki kecenderungan menderita osteoporosis pada usia 45 tahun ke atas. Kecenderungan keropos tulang penduduk Indonesia berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Gizi Depkes 2002,” kata Menkes dr Siti Fadilah Supari dalam cara puncak peringatan Hari Osteoporosis Nasional, di Jakarta, pekan lalu.

Padahal, lanjut Menkes, idealnya asupan kalsium bagi setiap orang rata-rata per hari antara 1.000 - 1.200 mg guna mencegah osteoporosis. Dan yang tak kalah penting adalah kurangi kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol agar kadar kalsium yang ada dalam tubuh tidak berkurang. Keropos tulang, tidak saja menimbulkan rasa nyeri pada tulang, tapi dapat menimbulkan kecacatan berupa perubahan bentuk tubuh dan patah tulang .

Hasil Penelitian Puslitbang Gizi Depkes menyebutkan bahwa 19,7 persen dari penduduk Indonesia usia 25-90 tahun memiliki kecenderungan percepatan menderita keropos tulang. Sedangkan, data penderita keropos tulang di seluruh dunia saat ini 1,7 juta jiwa dan akan meningkat menjadi 6,3 juta orang pada tahun 2050.

Hal senada dikemukaan dokter spesialis olahraga, dr Tanya Rotikan. Katanya, latihan fisik yang benar dapat membantu mencapai puncak massa tulang, menjaga kesehatan tulang dan mencegah terjadinya osteoporosis dini.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa latihan fisik bila dilakukan sesuai prinsip-prinsip tertentu dan dengan cara yang tepat, baik dari segi jenis, intensitas, waktu dan frekuensi per minggu dapat meningkatkan kepadatan tulang mulai dari anak-anak sampai mencapai puncaknya saat dewasa muda, pada wanita maupun pria.

“Penelitian pada wanita menopause juga membuktikan bahwa latihan fisik dapat meningkatkan kepadatan tulang serta mengurangi risiko jatuh Karena latihan fisik akan meningkatkan kekuatan otot serta keseimbangan tubuh.,” ujar Tanya Rotikan.

Tapi latihan fisik untuk penderita osteoporosis sangat berbeda dengan mereka yang belum menderita osteoporosis. Latihan fisik untuk penderita osteoporosis tidak boleh ada benturan yang keras serta ada beberapa gerakan yang tidak boleh dilakukan.

Latihan fisik yang dianjurkan untuk pencegahan osteoporosis adalah latihan fisik dengan pembebanan yaitu semua aktivitas fisik yang dilakukan dalam posisi tegak, sehingga kerangka tubuh menunjang berat badan terhadap gaya grativasi bumi, misalnya latihan fisik aerobik jalan kaki, jogging, lari dan senam aerobik, yang dimulai dengan intensitas ringan sesuai kemampuan.

Selain itu juga ditambah latihan dengan beban yang dapat menambah kekuatan otot maupun densitas tulang lokal pada lokasi yang digerakkan. Dosis latihan fisiknya harus tepat dan individual karena bila terlalu ringan kurang bermanfaat. Sedangkan bila terlalu berat dapat menimbulkan cedera sampai patah tulang terutama bila sudah terjadi osteoporosis atau timbul gangguan haid yang dapat menurunkan kepadatan tulang.

Menurut dr Tanya, pertambahan massa tulang terutama terjadi pada anak-anak wanita dan laki-laki sampai usia kira-kira 30 tahun, dimana tulang punggung mencapai puncak massa tulangnya pada usia kira-kira 20 tahun, sedangkan tulang panjang (tungkai) lebih lambat. Kepadatan tulang selalu berubah-ubah dan akan bereaksi terhadap sekitarnya, misalnya adanya gaya tarikan otot atau pembebanan yang lain.

Anak-anak yang melakukan aktivitas fisik tinggi normal selama 40 menit sehari mempunyai kepadatan tulang yang lebih banyak dibandingkan anak-anak yang kurang aktif, baik anak laki-laki maupun perempuan.

“Walaupun kita tidak aktif berlatih fisik sewaktu anak-anak, tulang masih dapat bereaksi terhadap latihan fisik dengan meningkatkan atau mempertahankan kepadatan tulang bila kita mulai berlatih fisik sewaktu dewasa sesuai dengan usia saat itu,” katanya.

Penelitian yang dilakukan oleh Bagian Ilmu Kedokteran Olahraga bersama-sama dengan Bagian Kebidanan FKUI membuktikan, bahwa kelompok wanita berusia reproduktif 20-35 tahun yang sebelumnya tidak berlatih fisik rutin, dapat meningkatkan kepadatan tulangnya setelah melakukan senam aerobik rutin selama 3 bulan.

Leave a Reply